News

Benarkah Muslim Indonesia “Arogan” ?

Benarkah Muslim Indonesia “Arogan” ?

eKoran.co.id – Semakin diamatinya keterkaitan sosial-politik dari beberapa Muslim Indonesia, semakin terlihat tuduhan terkait Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama merupakan salah satu kasus di titik.

Apa yang dimulai sebagai ekspresi Ahok untuk kekecewaan kepada mereka yang memutar penafsiran literal dari ayat 5:51 dari Quran dan menggunakannya untuk melawan dia, menyebabkan keyakinan luas bahwa gubernur telah melakukan penghujatan terhadap kitab suci Islam, dan karenanya umat Islam.

Dan akhirnya Ahok meminta maaf kepada umat Islam untuk pernyataannya. Masalahnya di sini adalah bahwa daripada melihat Quran sebagai kitab suci untuk dipelajari, beberapa Muslim Indonesia mengambil Quran sebagai peninggalan yang begitu rapuh sehingga perlu dipertahankan.

Secara alami berikut kemudian bahwa setiap “tidak pantas” pernyataan tentang Quran akan menodai keasliannya. Namun, kebenaran dalam Al-Quran selalu menjadi warna-warni dalam hal penafsirannya.

Jika tidak, bagaimana bisa sebuah abad ke-7 mengungkapkan kitab suci punya sesuatu untuk dikatakan dalam hidup kita berada di abad ke-21 tanpa elastisitas yang melekat di dalamnya?

Oleh karena itu, bentuk interpretasi apa pun yang kita terapkan untuk memahami Quran tidak harus bertentangan dengan misinya untuk memberikan bimbingan bagi kemanusiaan, dan tidak dengan cara apapun menolak konteks historis di mana terungkap.

Inilah yang terjadi pada penafsiran ayat 05:51 yang mengatur umat Islam untuk hanya hidup di bawah kepemimpinan Muslim lain.

Di Indonesia, masalah yang melekat dalam apa pembacaan literal dari Quran diperparah oleh alam bawah sadar sosial yang memandang Muslim sebagai warga negara kelas satu dan sisanya sebagai “tambahan” dalam proyek-proyek pembangunan nasional.

BACA JUGA :  Menteri Ingin Anak-Anak Dilindungi Dari Konten Berbahaya

Bertentangan dengan pendapat umum, persepsi ini tidak hanya dalam domain Muslim garis keras, tapi juga hadir dalam elemen utama dari masyarakat Muslim Indonesia.

Contoh lain dari oposisi saat ini untuk kepemimpinan Ahok untuk ibukota Indonesia akan membuat ini lebih jelas. Inti kebencian untuk menentang Ahok dari mempertahankan gubernur yang belum tentu satu agama.

Hal ini terjadi karena tidak ada banyak tokoh Muslim dapat membuktikan bahwa mereka lebih mampu dari etnis Cina-Kristen seperti Ahok dalam melakukan pekerjaan sebagai gubernur Jakarta.

Yusril Ihza Mahendra gagal mendapatkan dukungan dari koalisi, yang anggotanya termasuk dua partai politik besar Islam, yang akhirnya mendukung putra mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono, seorang perwira militer yang memiliki pengalaman nol dalam mengelola provinsi kosmopolitan serumit Jakarta.

Sementara partai Islam besar lainnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mendukung salah satu orang terkaya di Indonesia, Sandiaga Uno, yang juga tidak memiliki pengalaman dalam memimpin sebuah megapolitan seperti Jakarta.

Inilah sebabnya mengapa kebencian dari Ahok khusus berasal dari fakta bahwa, pertama  ia adalah seorang Indonesia keturunan Tionghoa, dan kedua ia adalah seorang Kristen.

Ketika komponen penting dari kepemimpinan seperti kapasitas dan pengalaman untuk memerintah hilang dari persamaan, satu-satunya hal yang tersisa untuk mempekerjakan adalah alasan sektarian kecil seperti ras dan agama.

Faktanya adalah bahwa sebagian dari kita Muslim Indonesia masih tidak dapat menempatkan diri di posisi yang sama dengan non-Muslim, non-Jawa Indonesia atau lainnya.

Comments

Berita Terhangat

To Top