News

Amnesti Pajak Jadi Pembuka Reformasi Pajak

Amnesti Pajak Jadi Pembuka Reformasi Pajak

eKoran.co.id – Kesulitan keuangan telah mendorong pemerintah untuk menemukan cara untuk menjamin kesinambungan fiskal melalui reformasi pajak, ekonom Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mengatakan.

Defisit fiskal mencapai 2,36 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2015 dari 1,91 persen tahun sebelumnya karena kekurangan pendapatan yang lebih tinggi, kata Yose Rizal Damuri, kepala ekonomi departemen CSIS.

“Defisit akan lebih luas jika amnesti pajak tidak berhasil tahun ini. Ini akan menjadi masalah karena itu berarti bahwa kesenjangan antara pendapatan dan pengeluaran pemerintah telah menjadi lebih besar, “kata Yose dalam seminar reformasi pajak di Jakarta.

Dia menambahkan bahwa ketika suatu negara dikonsumsi lebih dari itu diproduksi dan diterima, itu mengakibatkan defisit. Bangsa ini harus membiayai konsumsi berlebihan melalui lebih dan lebih banyak utang, kata Yose.

“Dengan situasi fiskal berisiko, reformasi pajak yang dibutuhkan,” katanya kepada penonton.

BACA JUGA :  Luhut Inginkan Anti-Teror Yang Lebih Kuat

Heru Iswahyudi, seorang analis peraturan pajak internasional dari Direktorat Jenderal Pajak, mengatakan amnesti pajak adalah solusi untuk reformasi pajak.

“Salah satu tujuan dari amnesti pajak adalah untuk mendukung reformasi pajak dan untuk memperluas basis pajak untuk pengumpulan pajak di masa mendatang,” katanya.

Cara lain untuk mempercepat reformasi pajak adalah melalui upaya pemerintah untuk memprioritaskan pembahasan undang-undang yang diusulkan pada amnesti pajak, yang meliputi sistem perpajakan umum, pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai, katanya.

Diketahui sebelumnya pemerintah memberlakukan program amnesti pajak untuk menarik dana-dana yang disimpan di luar negeri dan untuk menambahkan pemasukan Indonesia yang seharusnya disetorkan sejak beberapa tahun lalu.

Untuk hasilnya pada periode pertama, Indonesia mendapatkan pemasukan yang melebihi ekspetasi, namun hal itu dirasa belum cukup untuk membuat pembangunan seperti yang ditargetkan.

Comments

Berita Terhangat

To Top