Politik

PDI-P Menentang Persyaratan “Asal Indonesia” Untuk Menjadi Presiden

PDI-P Menentang Persyaratan "Asal Indonesia" Untuk Menjadi Presiden

eKoran.co.id – Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Ahmad Basarah telah menentang upaya untuk mengembalikan “asal Indonesia” sebagai persyaratan untuk calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Dia mengatakan bahwa persyaratan tersebut adalah diskriminasi.

Dia menanggapi saran terbaru dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang ingin kembali Pasal 6 ayat (i), UUD 1945 ke bentuk aslinya sebelum perubahannya, memutuskan bahwa calon yang memenuhi syarat untuk posisi teratas negara harus menjadi asal Indonesia (warga asli keturunan Indonesia) yang dirasa sangat menyulitkan.

“Proposal itu adalah ahistoris, dan itu bertentangan berdiri bangsa hukum, yang bertujuan untuk memberantas diskriminasi dalam segala bentuk, terutama SARA (diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras dan kelompok sosial),” kata Ahmad.

Selain itu, melihat kembali sejarah Indonesia, Ahmad mengatakan, keturunan asing, termasuk orang-orang Cina dan Arab, membantu para pendiri dalam menyusun ideologi negara Pancasila dan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

BACA JUGA :  Ahok Tetapkan Diri Sebagai Calon Independen

Oleh karena itu, seperti persyaratan ketat tidak akan tepat, katanya.

“Jika kita mematuhi usulan PPP, itu berarti [menonjol] tokoh-tokoh seperti Anis Baswedan, Alwi Shihab, Kwik Kian Gie, Jaya Suprana dan lain-lain [yang memiliki warisan asing] tidak akan memenuhi syarat untuk menjalankan pemilihan sebagai Presiden Indonesia,” tambahnya .

“Kita adalah Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika, banyak disini yang merupakan keturunan dari asing dan tentu saja itu akan menghamnbat potensi para pemimpin yang layak jika ditetapkan.

“Ini bukan masalah sosok yang dianggap asli atau tidak, namun setiap orang yang lahir dan tinggal di Indonesia adalah asli orang Indonesia. Karena jika masih memikirkan latar belakang keturunan dari terdahulu, itu akan menyulitkan dan terlalu bersikap diskriminatif.”

Comments

Berita Terhangat

To Top