News

Menteri Kesehatan: Orang Dengan Penyakit Mental Masih Terabaikan

Menteri Kesehatan: Orang Dengan Penyakit Mental Masih Terabaikan

eKoran.co.id – Kementerian Kesehatan telah mengakui bahwa banyak orang dengan masalah kesehatan mental masih terabaikan dan tidak ditawarkan pengobatan yang diperlukan oleh pemerintah.

Fidiansjah, Direktur Departemen Kesehatan untuk pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan dan obat mental, mengatakan salah satu masalah adalah bahwa negara tidak memiliki dokter yang cukup, perawat dan psikiater.

“Distribusi sumber daya manusia hanya terkonsentrasi di kota-kota besar,” katanya, selama acara yang digelar untuk memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia.

Pembiayaan juga merupakan masalah besar. Saat ini, negara mengalokasikan hanya 5 persen dari anggaran untuk masalah kesehatan, dan keluar dari itu, hanya sebagian kecil telah menyisihkan untuk mengobati orang dengan masalah kesehatan mental, kata Fidiansjah.

Meskipun sejumlah besar pekerjaan yang masih harus dilakukan untuk meningkatkan perawatan kesehatan mental di negara ini, Kementerian Kesehatan akan berusaha untuk menawarkan layanan yang lebih baik bagi orang-orang dengan penyakit kesehatan mental melalui kolaborasi antar sektor.

Tahun ini, pemerintah sedang dalam proses menciptakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri dan Kantor Menteri Pembangunan dan Kebudayaan Koordinasi Manusia dalam upaya untuk memecahkan masalah ini.

BACA JUGA :  Penyebab Anjloknya KRL Manggarai-Tanah Abang Masih di Selidiki

“Misalnya, Departemen Kesehatan akan mengambil peran dalam memberikan perawatan dan pengobatan. Kemudian, Kementerian Sosial akan membantu mereka yang menderita masalah kesehatan mental mengintegrasikan kembali ke masyarakat, “katanya.

Mendekati peringatan Hari Kesehatan Mental Dunia, Kementerian Kesehatan telah mendesak masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan penyakit mental dengan memperlakukan mereka sama-sama.

Selama acara “kesehatan berjalan” bertema “Walk the Talk” yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Minggu, Tritarayati, seorang staf ahli dengan Kementerian Kesehatan, menekankan bahwa peran keluarga sangat penting dalam memberikan dukungan psikologis bagi orang-orang dengan masalah kesehatan mental.

“Tekanan psikologis dapat terjadi di mana-mana; di rumah-rumah, sekolah atau kantor. Dengan demikian, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan karena profesional medis tidak selalu tersedia di saat krisis, “katanya kepada penonton.

Riskesdas pada tahun 2013 mencatat bahwa 6 persen dari 14 juta orang berusia 15 tahun atau lebih tua menunjukkan gejala depresi berat dan kecemasan.

Data tersebut juga mengungkapkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat (psikosis atau skizofrenia) di penduduk Indonesia adalah 1,7 per 1.000 orang.

Comments

Berita Terhangat

To Top